Segala puji bagi Allah Subhaanahu wa Ta’ala, atas Naungan Rahmat dan Hidayah-Nya yang senantiasa menaungi perjalanan hidup kita, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang mulia yang tiada nabi setelahnya, Yakni junjungan alam Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan atas keluarga beserta para sahabatnya hingga pengikutnya sampai akhir jaman. Amma ba’du.

Friday, April 15, 2016

SHOLAT

SHOLAT
Sholat juga merupakan sebuah ibadah yang tata caranya sudah ditentukan dan dicontohkan oleh Rasulullaah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullaah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
صلوا كما رأيتموني أصلي
Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat. (HR. Bukhari)

Oleh sebab itulah, setiap muslim  harus tahu bagaimana tata cara sholat sebagaimana Rasulullaah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam sholat. Dan inilah penjelasannya.


1. Berdiri Menghadap Kiblat

Sholat diawali dengan berdiri menghadap kiblat bagi orang yang mampu.

“Bila engkau berdiri untuk sholat, sempurnakanlah wudhu’mu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.” (HR. Bukhari, Muslim dan Siraj).

Jika tidak mampu dapat dilakukan dengan cara duduk atau tidur miring, sebagaimana sabda Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam:

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan dari ‘Abdullah dari Ibrahim bin Thohman berkata, telah menceritakan kepada saya al-Husain al-Muktib dari Abu Buraidah dari Imran ibn Hushain Radhiyallaahu ‘anhu ia berkata: Pada saat aku terkena penyakit bawasir, aku bertanya kepada Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam tentang caraku mengerjakan sholat. Maka Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sholatlah dengan cara berdiri, jika tidak mampu maka duduk, dan bila tidak mampu maka tidur miring.” (Shahih al-Bukhari, hadits no. 1050)
Hukum berdiri di dalam melaksanakan sholat fardhu adalah wajib. Sementara pada sholat sunnah, hukumnya adalah sunnah. Di dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Warits, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Husain al-Mu’allim dari Abdullah ibn Buraidah bahwa ‘Imran ibn Hushain Radhiyallaahu ‘anhu adalah seorang yang pernah menderita sakit wasir. Dan suatu ketika Abu Ma’mar berkata, dari Hushain yang berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam perihal seseorang yang melaksanakan sholat dengan duduk.

Maka Beliau Shollallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Siapa yang sholat dengan berdiri maka itu lebih utama. Dan siapa yang melaksanakan sholat dengan duduk maka baginya setengah pahala dari orang yang sholat dengan berdiri dan siapa yang sholat dengan  dengan tidur (berbaring) maka baginya setengah pahala orang yang sholat dengan duduk.”

Berkata Abu Abdullah: “Menurutku yang dimaksud dengan tidur adalah berbaring.” (Shahih al-Bukhari, hadits no. 1049)

Tata cara berdiri adalah kedua kaki diluruskan. Antara ujung keduanya direnggangkan sekira satu jengkal, dan diantara kedua tumit sekira empat jari. Wajah ditundukkan memandang ke arah tempat sujud. Kemudian membaca surat an-Naas sebagai permohonan kepada Allah Ta’aala agar dijauhkan dari godaan syaithan.

Di sebutkan di dalam kitab Bidayah al-Hidayah karya al-Imam al-Ghazali Rahimahullaahu Ta’aala: 
“Hendaklah berdiri menghadap kiblat seraya meluruskan dua kaki dan tidak merapatkannya. Berdiri dengan tegak kemudian membaca surah an-Naas sebagai permohonan agar dijaga dari godaan syaithan yang terkutuk.” (Bidayatu al-Hidayah halaman 44)

Setelah itu disunnahkan melafadzkan niat dengan tujuan untuk membantu menghadirkan niat di dalam hati. Dalam hal ini Syaikh Muhammad bin Umar an-Nawawi al-Bantani di dalam kitab Kasyifatu as-Saja Syarh Safinatu an-Najah pada sub bab yang menyebutkan rukun-rukun Sholat, beliau menjelaskan:

“Adapun yang pertama adalah niat di dalam hati. Tidak wajib diucapkan dengan lisan. Akan tetapi mengucapkan niat hukumnya adalah sunnah untuk membantu hati melafadzkan niat.” (Kasyifatu as-Saja Syarh Safinah an-Najah halaman 65)

Dalam beberapa kesempatan, Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melafadzkan niat, misalnya dalam ibadah Haji. Dijelaskan dalam sebuah hadits:

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari yahya bin Abu Ishaq dan Abdul Aziz bin Shuhaib dan Humaid bahwa mereka mendengar dari Shahabat Anas Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah dan haji.” (Shahih Muslim No. 2194)

Konteks hadits diatas berbicara dalam persoalan haji. Akan tetapi sholat dapat di-qiyas-kan kepada haji. Jika ketika melaksanakan ibadah haji sunnah melafadzkan niat, maka dalam sholat juga demikian, dianjurkan melafadzkan niat dengan tujuan membantu hati agar juga dapat melafadzkan niat.

Lebih jelas lagi ditegaskan oleh Syaich Hasan ibn ‘Ali as-Saqafi sebagai berikut:
“Melafadzkan niat ketika hendak bertakbiratul-ihram adalah sunnah. Pada saat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh amal perbuatan bergantung kepada niat”,

Niat ini di lafazkan sebelum takbirotul ikram, dan kemudian di takrihkan dengat hati saat mengangkat tangan untuk takbirotul ikram, seraya bertakbir, Oleh karena itu, orang yang menghadirkan niat di dalam hatinya dan tidak diucapkan, maka sah sholatnya.

Menghadap Kiblat Merupakan Syarat Sah Shalat

Syarat sah shalat yang harus dilakukan sebelum melaksanakannya di antaranya adalah menghadap kiblat. (Lihat At Tadzhib fi Adillati Matnil Ghoyat wa At Taqrib – Matni Abi Syuja’, hal. 52, Darul Fikri dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al ‘Aziz, hal. 82, Dar Ibnu Rojab)

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah: 144)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada orang jelek shalat (musi’ salatahu),
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ

“Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhumu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 912)

An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan, “Hadits ini terdapat faedah yang sangat banyak dan dari hadits ini diketahui pertama kali tentang hal-hal tadi adalah wajib shalat dan bukanlah sunnah.

” Beliau juga mengatakan, “Dalam hadits ini menunjukkan tentang wajibnya thoharoh (bersuci), menghadap kiblat, takbirotul ihrom dan membaca Al Fatihah.” (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 2/132)

Yang Mendapat Udzur (Keringanan) Tidak Menghadap Kiblat

Dalam Matan Al Ghoyat wat Taqrib (kitab Fiqih Syafi’iyyah), Abu Syuja’ rahimahullah mengatakan, “Ada dua keadaan seseorang boleh tidak menghadap kiblat : [1] Ketika keadaan sangat takut dan Ketika shalat sunnah di atas kendaraan ketika safar.”

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا

“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan.” (QS. Al Baqarah: 239).

Yaitu jika seseorang tidak mampu shalat dengan sempurna karena takut dan semacamnya, maka shalatlah dengan cara yang mudah bagi kalian, bisa dengan berjalan atau dengan menaiki kendaraan.

Ibnu Umar mengatakan,
فَإِنْ كَانَ خَوْفٌ هُوَ أَشَدَّ مِنْ ذَلِكَ صَلَّوْا رِجَالاً ، قِيَامًا عَلَى أَقْدَامِهِمْ ، أَوْ رُكْبَانًا مُسْتَقْبِلِى الْقِبْلَةِ أَوْ غَيْرَ مُسْتَقْبِلِيهَا

“Apabila rasa takut lebih dari ini, maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan dengan menghadap kiblat atau pun tidak.”

Malik berkata (bahwa) Nafi’ berkata,
لاَ أُرَى عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ ذَكَرَ ذَلِكَ إِلاَّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم
“Aku tidaklah menilai Abdullah bin Umar (yaitu Ibnu Umar, pen) mengatakan seperti ini kecuali dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 4535)


Ibnu Umar berkata,
وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ ، وَيُوتِرُ عَلَيْهَا ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُصَلِّى عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan dengan menghadap arah yang dituju kendaraan dan juga beliau melaksanakan witir di atasnya. Dan beliau tidak pernah mengerjakan shalat wajib di atas kendaraan.” (HR. Bukhari no. 1098 dan Muslim no. 1652) (Lihat At Tadzhib fi Adillati Matnil Ghoyat wa At Taqrib – Matni Abi Syuja’, hal. 53 dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al ‘Aziz, hal. 82-83, Dar Ibnu Rojab)

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More